Judul : Pramoedya Ananta Toer dari dekat sekali
Pengarang : Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun terbit : Cetakan pertama, juli 2006
Tebal halaman : XVI, 266 halaman
Novel ini adalah salah satu dari beberapa karya Koesalah Soebagyo Toer, novel yang menceritakan tentang kehidupan sang Maestro Indonesia yaitu Pramoedya Ananta Toer. Novel ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta seni yaitu sastra, karena novel ini bercerita tentang Pramoedya Ananta Toer yang namanya dikenal banyak orang melalui karya karyanya yang sangat bagus. Novel yang menceritakan tentang Pramoedya Ananta Toer ini memiliki 3bagian, yaitu bagian yang pertama menceritakan Pramoedya A. Toer pada tahun 1981-1986, lalu bagian yang kedua menceritakan pada tahun 1987-1992, dan yang terakhir bagian ke tiga, yaitu tahun 1992-2006.
Pada bagian pertama, menceritakan tentang Pramoedya Ananta Toer yang menceritakan rasa sakitnya dan beliau menceritakan bahwa dia bisa 8kali tidur dalam sehari, saat akan diantar ke dokter, PAT selalu menolak, karena beliau tidak mau, dan beliau merasa bisa mengobati dirinya sendiri, lalu pada bulan juli 1983 saat lebaran, beliau bersama keluarganya yang kebetulan ada di Jakarta, beliau bersama keluarganya berlebaran bersama, dan beliau juga mengeluhkan manusia yang ada di Jakarta pada saat itu. Kemudian beliau mengurus surat-surat tanah yang diwariskan oleh bapaknya beserta sekolahnya, lalu berbincang bincang dengan Koesalah Soebagyo Toer. Sampai dengan saat wartawan Jepang menelponnya untuk mengusulkan menjadi calon Asia untuk Nobel.
Pada bagian kedua, bercerita tentang beliau yang mengidap diabetes dan berat badannya turun hingga 12 kg, lalu Koesalah Soebagyo Toer memberitahu untuk diberi daun salam secara teratur, tetapi beliau membantah karena berpendapat bahwa pankreas yang bocor tidak bisa ditambal dengan obat, lalu pada 21 Mei 1987 beliau mengeluhkan beberapa menjadi beban baginya, yaitu yang pertama adalah masalah ekonomi pada keluarganya, lalu anak anaknya, dan yang terakhir adalah umurnya yang sudah menginjak usia tua, jadi tidak bisa bekerja sekuat saat dulu masih muda, lalu ada suatu momen saat Koesalah Soebagyo Toer menyarankan Pramoedya Ananta Toer untuk mengobati diabetesnya dengan cara yang tradisional, yaitu pergi ke dukun, tapi Pramoedya Ananta Toer tidak mau dan menyepelekannya, karena menganggap diabetes itu bukan penyakit dan tidak ada obatnya, tetapi diabetes adalah kebocoran, dan kebocoran tidak ada obatnya.
Pada bagian yang ketiga, ada suatu momen saat Pramoedya Ananta Toer menjenguk bapaknya, saat itu juga Koesalah Soebagyo Toer pertama kali melihat beliau merokok, dan jari jari Pramoedya Ananta Toer sampai mencoklat, perjalanan penuh tekad untuk menjenguk bapaknya yang sudah sangat sakit keras, dan itu tertulis dalam novel beliau yang berjudul "bukan pasar malam", yang setiap Koesalah Soebagyo Toer membacanya tidak dapat membendung air matanya karena ia lah yang menjadi saksi saat bapaknya menghembuskan nafas terakhirnya.
Novel ini menceritakan tentang perjalanan seorang Pramoedya Ananta Toer dari semasa hidupnya hingga akhir hayatnya, disini Pramoedya Ananta Toer adalah tokoh utama dari novel karya Koesalah Soebagyo Toer ini, Tokoh tokoh lain yang ada di novel ini adalah keluarga besar Pramoedya Ananta Toer. Alur novel ini sangat bagus hingga dapat memberikan kebahagiaan tersendiri bagi pecinta sastra.
Kelebihan yang ada di novel ini adalah ceritanya yang bagus dan enak untuk membacanya karena berisi cerita tentang perjalanan hidup sang Pramoedya Ananta Toer, yang membuat penyuka karya karyanya dapat mengetahui kehidupan Pramoedya Ananta Toer. Kekurangan dari novel ini adalah bahasanya, karena terdapat bahasa yang susah dimengerti dan beberapa kata kata kasar di dalam novel ini. Kelebihan yang lainnya adalah novel ini memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak digemari oleh banyak orang dan juga novel ini tidak ada batasan usianya jadi dapat dibaca oleh seluruh kalangan.
Oleh Miko Putra Wijaya VIII.9 /15
Selasa, 18 September 2018
Para Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer: Kelamnya Indonesia Pada Masa Lalu, Karya Pramoedya Ananta Toer
Para Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer: Kelamnya Indonesia Pada Masa Lalu, Karya Pramoedya Ananta Toer
Judul: “Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer”
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun terbit: Cetakan Ketigabelas, Juni 2018
Tebal buku: 248 halaman
Novel
Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer merupakan salah satu karya dari
Pramoedya Ananta Toer yang juga merupakan novel kelimanya yang diterbitkan oleh
Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Deperti beberapa novel Pramoedya yang lain,
novel ini menunjukkan beberapa kekelaman Indonesia pada masa lalu. Buku ini
menceritakan tentang susahnya kehidupan para perawan Indonesia di masa
penjajahan jepang yang dijadikan budak pemuas nafsu oleh para serdadu Jepang.
Novel ini memiliki 8 bab yang semuanya berisi tentang kesedihan, kekelaman, dan
menakutkannya Bangsa Indonesia pada masa penjajahan khususnya pada masa
penjajahan Jepang.
Tahun
1943-1945 pada masa Perang Dunia II dan juga masa penjajahan jepang ke Indoesia
menyebabkan keterpurukan dan kesengsaraan pada para warga Indonesia makin
bertambah. Kerja paksa (romusha)
menjadi salah satu penyebabnya. Tak hanya para orang dewasa yang menderita
karena hal itu, para pemuda di Indonesia khususnya para perawan remaja yang
masih berumur kisaran muda . Akan tetapi, para pemerintah Dai Nippon sendiri memberi sayup-sayup akan menyekolahkan para
perawan remaja dari Indonesia ke Tokyo, Jepang dan Shonanto, Singapura. Banyak
para perawan yang diambil langsung dari
tangan orang tua mereka ada yang memang karena paksaan jepang yang akan
memberikan hukuman berat jika para orang tua tidak memberikan para putrinya
yang masih remaja dan perawan, dan juga ada yang dengan bahagia menyerahkan
putrinya karena mereka benar-benar percaya dengan janji manis tersebut. Desas-desus
tersebut menyebar bukan dari Osamu Serei (Surat
Negara), melainkan dari mulut ke mulut yang tentu saja dengan cepat akan
menyebar ke semua kalangan masyarakat.
Pramoedya
juga menjelaskan beberapa perawan dari beberapa kota yang dapat ia sebutkan
seperti, Rr.S., dari Kampung Macanan, Prambanan, M., dari Kecamatan Mejaba,
Kudus, A, dari Losari Timur, Brebes. Banyak para perawan yang mati dalam
penderitaan pada saat pengangkutan maupun tidak. Penderitaan tersebut tak hanya
satu, tapi bermacam-macam. Dan sungguh sungguh tidak manusiawi, kecuali bagi
para serdadu Jepang. Setelah mereka mengetahui bahwa Jepang telah menyerah,
mereka sangat ingin untuk pulang kembali ke kampung halaman. Akan tetapi, beban
moral yang berat karena pengalaman yang buruk menjadi salah satu pengambat.
Selain mereka yang tinggal disana, ada beberapa perawan yang berhasil lolos dan
pulang ke kampug halaman dengan selamat. Salah satu dari mereka pulang dengan
cara yaitu pamannya yang menjadi perajurit sekutu menemukannya dan membawanya
kembali ke Jawa. Meskipun sebagian besar orang Jepang adalah orang yang kejam,
ada beberapa warga jepang yang baik dan ikhlas membantu masyarakat Indonesia.
Contohnya saja Laksmana Maeda yang sagat berjasa dalam membantu kemerdekaan
Indonesia.
Dilepas
dari kandang yang terbakar, itulah perumpamaan yang cocok bagi para perawan
yang mendengar kkalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Tetapi beban untuk pulang
dan lamanya waktu yang telah berjalan tersebut lah yang membuat mereka seperti
orang buangan, bahkan mungkin keluarganya sudah melupakannya dan menganggapnya
mati. Pada wawancara Sutikno W.S. dengan A.T. Kadir, 1978 A.T. Kadir pernah
sempat bertemu dengan Sukini pada saat ia masih bocah. Rombongan gadis itu
ditempatkan di hotel militer di Makassar. Lalu, wawancara pada Sukarno
Martodiharjo, 1978 Setrlah Kapal Suramaru no. 36 berlabuh di Bangkok,
Singapura. Salah satu dari mereka mengemukakan bahwa mereka hanyalah para
pemuas nafsu para serdadu Nippon. Bukan hanya gadis dari Indonesia saja yang dikorbankan,
melainkan juga gadis-gadis dari Filipina dan dan Jepang sendiri juga mengalami
hal yang sama. Setelah Jepang bertekuk lutut, gadis-gadis itu laksana anak ayam
kehilangan induk, ingin pulang namun tak tahu jalan, dan tak ada uang.
Pramoedya
Ananta Toer pun memiliki pengalamannya sendiri. Pada 16 Agustus 1969, ia
beserta 800 orang yang lain meninggalkan pelabuhan Sodong ke Teluk Kayeli, dan
disitu ia mendengar cerita dari Rodius Susanto. Disana ia telah bertemu dengan
beberapa warga disana, sekilas ia melihat seorang wanita yang terlihat seperti
orang yang bukan asli sana, tampangnya berbeda dan benar saja setelah ia
berbincang bincang dengan orang tersebut, ia bukanla orang asli situ, tapi
merupakan orang asli Jawa. Umurnya kisaran 50 tahun sekilas, ia berpikir bahwa
orang itu merupakan wanita buangan pada masa penjajahan Jepang, dan benar saja
ia adalah salah satu dari sekian banyak buangan pada masa penjajahan Jepang.
Tidak hanya ia seorang, banyak para buangan yang hidup dan besar disana karena
tak tau arah untuk pulang.
Setelah
2 bulan disana, ia mengenal Siti F. ia berbeda dari orang-orang Alfuru (suku
asli pulau tersebut) dan ia sebenarnya merupakan salah satu dari
buangan-buangan yang hidup di sana. Sewaktu waktu Saroni berbincang dengan Siti
F. Disana Siti F. mulai menceritakan dari waktu saat orang tuanya melepaskannya
ke cengkraman Jepang, penderitaannya di tangan serdadu Jepang, sampai ia yang
terbuang besar di pulau ini. Disana ia mendapat data bahwa Siti F. lahir pada 1927,
anak Asisten Wedana Subang, Singadikarta. Dan ia sekarang hidup dengan kedua
anaknya yang ditinggal ayah tercintanya meninggal.
Dan
yang terakhir, buku ini tidak akan menarik jika bab terakhir ini dihilangkan,
Pencarian Ibu Mulyati dari Klaten yang terdampar di Pulau Buru. Bab inilah yag
membuat kita akan selalu penasaran akan kelanjutannya, ya cerita tentang Ibu
Mulyati. Pramoedya berhasil meracik novel ini menjadi sangat baik, dan membuat
penasaran para pembaca. Tidak hanya dari sudut pandang itu, Pramoedya berhasil
membuat para pembaca tertarik emosinya dan dap mengingat bahwa kebahagiaan kita
di hari ini takkan ada tanpa penderitaan para pendahulu.
Kekurangan
dari buku ini adalah, adanya kata-kata langsung yang terlihat terlalu vulgar
dan adanya percakapan yang menggunakan Bahasa Buru yang tidak diterjemahkan
yang membuat novel ini sulit untuk dibaca. Dan kesulitan untuk memahami bacaan
dalam novel ini yang membuat novel ini sendiri sulit untuk dipahami sekali baca
untuk sebagian besar pembaca bahkan, beberapa pembaca pun sulit untuk memahami
bacaan tersebut dengan 2 kali bacaan, terkadang mereka membutuhkan waktu yang
lebih banyak untuk memahaminya. Buku ini juga menceritakan tentang kekelaman
Indonesia di masa dahulu yang membuat kita sendiri sulit untuk melupakan sisi
buruk dari negara kita yang tercinta ini.
Oleh: Tualang Noer Carstenza, VIII.9/22
PERUBAHAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI "DI KAKI BUKIT CIBALAK" - Karya Ahmad Tohari
Judul : Di Kaki Bukit Cibalak
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 1994
Tebal halaman : 176 halaman
Novel Di Kaki Bukit Cibalak merupakan novel terbaik setelah Novel Ronggeng Dukuh Paruk ciptaan Ahmad Tohari. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1994. Novel ini memfokuskan pada sifat pemuda asal Tanggir yang memiliki kepribadian mencolok.
Feodalisme Jawa yang Tak Berperi dalam "Gadis Pantai'' Karya Pramoedya Ananta Toer
FEODALISME JAWA YANG TAK BERPERI DALAM "GADIS PANTAI" ~PRAMOEDYA ANANTA TOER~
Pengarang : Pramoedya
Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Jumlah Halaman : ±280 halaman
Tahun Terbit : 2003
Kategori Roman : Sejarah
Roman Gadis Pantai merupakan salah satu roman yang dikarang oleh Pramoedya Ananta Toer yang merupakan pengarang yang melegenda. Roman Gadis Pantai mengisahkan seorang gadis berusia empat belas tahun yang dinikahkan dengan seorang pembesar. Roman ini merupakan roman yang
Kasih sayang pada orang tua dalam (Bukan Pasar Malam) karya Pramoedya Ananta Toer
Judul : Bukan Pasar Malam
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit :Lentera Dipantara
Tahun terbit : 2004
Tebal halaman : 112 halaman
Bukan Pasar Malam merupakan sebuah roman karangan Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1951 oleh Balai Pustaka. Oleh sebagian pembaca, Bukan Pasar Malam,sering disimpulkan sebagai novel yang bernuansa religius serta mistik. Dan di samping itu seorang pejuang kemerdekaan telah rela berkorban hingga bersakit sakit.
Saat itu sang ayah mengirim surat kepada sang anak yang saat itu tinggal di Jakarta untuk kembali ke Blora kediaman ayah dan keluarganya. Selama perjalanan pulang ke Blora menggunakan transportasi kereta, pemuda tersebut didampingi oleh istrinya yang keturunan pasundan, ia gadis yang cantik namun cerewet, mereka baru menikah setengah tahun yang lalu. Selama perjalanan di kereta itu sang pemuda mencoba memerkenalkan keindahan daerah asalnya kepada istri terkasih. hingga akhirnya pemuda tersebut tiba di kampung halaman dan bertemu sang ayah tercinta yang tergolek lemah tak berdaya karena TBC.
Sang anak pun bertemu ayahnya di pembaringan rumah sakit, saat bertemu tangis haru menyelimuti mereka. Pemuda tersebut merasa miris melihat ayahnya yang dahulu berdiri kokoh sebagai seorang pemimpin perang gerilya yang cerdik, seorang guru yang hebat, dan seorang politikus pro rakyat yang ulung kini menjadi sesosok makhluk tak berdaya dengan TBC yang menggerogotinya. Sang anak ingin membawa ayahnya ke dokter spesialis namun terkendala oleh keuangan keluarga yang tidak mendukung. Saat saat seperti itulah keakraban antara ayah dan anak yang telah lama terpisah mulai kembali terjalin, begitu pula keakraban antara sang pemuda dengan adik-adiknya juga kembali dieratkan oleh suasana dan keadaan. Namun tiba tiba sang istri meminta pemuda tersebut untuk kembali ke Jakarta dengan alasan keuangan yang memprihatinkan. Pemuda tersebut mengiyakan permintaan sang istri terkasih, akhirnya pemuda tersebut mengutarakan keinginan untuk kembali ke Jakarta kepada sang ayah, namun sang ayah menolak dengan halus dan meminta waktu seminggu lagi agar anaknya tersebut sudi menemaninya.
Waktu berjalan penuh dengan keakrabang ayah dan anak. Tanpa mereka sadari, satu minggu terlewati sudah, namun akhirnya sang anak malah tidak ingin beranjak pergi karena ia merasa memiliki kewajiban untuk menemani ayahnya yang tergolek lemah tak berdaya, maklum saja ia merupakan anak pertama dalam keluarga mereka. Kejadian yang tak diinginkan akhirnya terjadi juga, sang ayah meninggal dunia setelah dia dibawa pulang ke rumah oleh anak-anaknya. Tangis pilu tak terhindarkan, suasana hening menyelimuti keluarga mereka, rumah yang terlihat memprihatinkan turut menghiasi kesedihan mereka setelah ditinggal pergi orang tua tunggalnya.
Setelah kepergian sang ayah pemuda mendapatkan banyak pembelajaran, hingga akhirnya ia menyadari bahwa kehidupan di dunia ini bukanlah seperti pasar malam, berduyun-duyun datang dan berduyun-duyun pula kembali, melainkan mereka menanti kepergiannya dengan segala hal yang masih dapat mereka lakukan.
Roman ini mengajak para pembacanya untuk selalu ingat pada orang tua. Karena orang tualah yang pertama kali merawat kita dan membesarkan kita. Roman ini mudah dicari di toko buku terdekat. Isinya sangat menarik membuat para pembaca ketagihan untuk membaca lagi.
Drama Mangir: Karya yang mengilhami pemerintahan sekarang karya Pramoedya Ananta Toer
Judul: Drama Mangir
Pengarang: Pramodeya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2015
Tebal halaman: 163 halaman
Pengarang: Pramodeya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2015
Tebal halaman: 163 halaman
Gadis Pantai : Semua Tunduk Pada Penguasa Karya Pramoedya Ananta Toer
Gadis Pantai : Semua Tunduk Pada Penguasa
Judul : Gadis Pantai
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Terbitan Pertama : 1987
Jumlah Halaman : 280
Roman karya pengarang legendaris
Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Gadis Pantai ini merupakan karya
yang tidak terselesaikan (unfinished
story). Buku ini pada awalnya terdiri dari tiga trilogi utuh, namun kedua
lanjutannya telah hilang di bawah kekerasan kekuasaan angkatan darat. Seperti
kebanyakan dari karya Pram yang berisi mengenai isu feodalisme, kesenjangan
sosial, perbedaan kasta, pertentangan status dan isu-isu sosial. Buku ini
mengambil isu feodalisme jawa yang dianggapnya terlalu kejam. Buku ini terinspirasi
dari kisah neneknya sendiri.
Gadis Pantai mengisahkan tentang
seorang kehidupan seorang gadis remaja yang berasal dari perkampungan di
pesisir pantai yang dinikahkan dengan seorang pembesar dari kota. Kisahnya
bermula dari seorang pembesar yang melamarnya, orang tuanya langsung
merestuinya karena ingin anaknya hidup terjamin bila menjadi istri Bendoro
tanpa memikirkan perasaan anaknya yang masih tidak rela untuk melepaskan masa
kanak-kanaknya dan menjadi seorang istri. Pernikahan ini tidak seperti biasanya
karena sang Bendoro tidak menikah secara langsung dengan gadis pantai namun
sang Bendoro diwakilkan oleh keris.
Kemudian
kisahnya berlanjut menceritakan bagaimana gadis pantai harus menyesuaikan diri
dengan kehidupan penuh kemewahan dan tata krama. Dalam kehidupannya menjadi
istri Bendoro ia selalu diajari oleh pelayan tua yang menemaninya setiap saat.
Hal ini membuatnya menyayangi sang pelayan yang ia anggap sebagai ibunya
sendiri. Ia diwajibkan melaksanakan perintah Bendoro (suaminya) tanpa
membantah, mendapat penghormatan dari semua pelayan, tidak diperkenankan untuk
melakukan pekerjaan yang biasa ia lakukan di kampungnya karena sebagai wanita
utama yang boleh dilakukan hanya memerintah bila ia menginginkan sesuatu,
bahkan kedudukannya berada di atas orang tuanya.
Dua
tahun berjalan, ia menjadi terbiasa dengan segala sesuatu yang ada di rumah
itu. Hingga suatu hari uangnya hilang. Gadis pantai mencurigai kerabat Bendoro
mengambil uangnya saat kamarnya dibersihkan namun ia tak berani mengadukannya.
Hal ini membuat sang pelayan tua membelanya dan langsung menuduh para kerabat Bendoro
tersebut. Pada akhirnya sang Bendoro tahu dan ia mengusir kerabatnya karena
telah berani mencuri sekaligus pelayan tua karena telah lancang menuduh kerabat
jauhnya. Kepergian pelayan membuat Gadis pantai merasa sendiri ditambah
kehadiran Mardinah (kerabat jauh Bendoro) yang juga berasal dari kalangan
bangsawan menggantikan pelayan tua membuat Gadis pantai semakin tertekan.
Karena Mardinah membuatnya sadar bahwa seorang Bendoro tidak dikatakan telah
menikah alias masih perjaka bila menikah hanya dengan seseorang dari kalangan
rendah atau orang kebanyakan, ia baru dikatakan telah menikah bila ia menikah
dengan seseorang yang sederajat dengannya.
Suatu
hari Gadis Pantai meminta ijin Bendoro untuk pulang ke kampungnya menengok
orang tuanya, karena sudah dua tahun mereka tidak bertemu. Anehnya Bendoro
langsung mengijinkannya dengan membawakan berbagai macam oleh-oleh untuk
masyarakat di desa. Gadis pantai ditemani dengan Mardinah berangkat ke desa. Di
desa mereka disambut oleh seluruh warga desa, semuanya bergembira menyambut
kedatangan salah satu orang dari mereka yang kini menjadi istri pembesar.
Karena tak tahan tinggal di kampung Mardinah pun kembali ke kota.
Semua
hingar bingar yang terjadi, berbalik 180 derajat, ketika gadis pantai menyadari
bahwa seseorang yang memijatinya, Mak Pin, adalah laki-laki yang merupakan
saudara Mardinah bernama Mardikun. Semuanya semakin aneh saat Mardinah kembali
dengan membawa banyak pengawal, dan berkata bahwa ia diutus Bendoro untuk
membawa Gadis Pantai kembali, namun Mardinah tidak mampu membuktikan bahwa ia
diutus. Karena curiga, Bapak Gadis Pantai tidak langsung mengijinkan Gadis
Pantai pulang. Dan benar saja, kecurigaan bapak bukan tanpa sebab. Mardinah
terbukti datang untuk membunuh Gadis Pantai ia mengakui bahwa ia disuruh untuk
membunuh Gadis Pantai oleh majikannya di Demak dengan imbalan dijadikan istri
ke-5 Majikan Demak.
Langganan:
Postingan (Atom)




